Tag
Tikus yang selama ini menyatroni dapur kami akhirnya terperangkap lem penjerat. Yang menjadi masalah kemudian adalah: siapa yang bakal membuangnya?
Ibu biasanya tak masalah dengan membuang binatang-binatang yang kerap berkeliaran di dapur seperti cicak atau kecoak. Tapi kali ini, tikus yang kira-kira berusia remaja ini, tubuhnya lumayan besar dan masih ligat bergeliat di atas papan lem perangkap yang baru dipasang dalam hitungan menit itu. Jelas Ibu merasa gidik. Maka dipanggillah saya.
Sebelas-dua belas. Melihat mahluk bermata hitam bulat biji pepaya itu menatap saya sambil sesekali bercericit, lunturlah keberanian saya yang semula mirip superhero di komik-komik yang siap menumpas kejahatan meleleh seperti es krim kebanyakan susu dijemur matahari siang bolong.
Saya tidak bilang saya ini pecinta binatang. Saya malah paling ogah punya hewan peliharaan karena saya tahu saya bakal malas merawat dan memperhatikan segala kebutuhannya. Saya pula pernah menendang seekor tikus yang panik berkejaran ketika saya melintas di sebuah gang sepi malam-malam. Tapi kali ini, menatap mata itu, saya jadi merasa tak tega.
“Hei, tolong lepaskan saya dari sini. Saya selama ini tidak pernah berniat mengganggu Anda. Saya cuma cari makan. Saya tidak bersalah!”
“Tidak bersalah, katamu? Tidak mengganggu, kaubilang? Cih!”
Ah, sudahlah. Terlalu hiperbolis. Lebay. Berlebihan. Saya tidak sampai lanjur bicara kepada tikus malang itu. Apalagi di depan ibu saya. Mau dikira gila, apa?
Toh, tikus itu juga tidak membela diri seperti itu. Saya hanya menerjemahkan dari sorot matanya yang, bagi saya, seolah putus asa dan penuh mohon. Tiba-tiba saya berpikir, seperti inikah rasanya menjadi pesakitan?
Di dapur yang ada cuma kami bertiga tanpa keputusan. Ibu saya yang bergidik, saya yang tak tega, dan tikus yang mungkin dalam benaknya menebak-nebak bagaimana nasibnya kelak.
Dalam situasi semacam ini, yang dibutuhkan adalah adanya pihak ketiga yang sama sekali bebas dari masalah yang kami hadapi. Seorang anak tetangga kebetulan lewat melintas di luar pintu dapur rumah kami. Ibu memanggilnya. Saya kembali ke kamar. Dalam hitungan menit, tak ada lagi tikus malang itu di dapur kami. Bocah tetangga itu mungkin telah melemparnya ke saluran got dekat-dekat sini. Mungkin.
Saya juga paling jijik dengan tikus
etapi kalo sama Miki Tikus atau Ratatouille, gimana?
btw, gudangnya hari ini lagi nggak bisa dibuka, ya?