It is not the same thing if I sign Jean-Paul Sartre or if I sign Jean-Paul Sartre, Nobel Prize winner.
– Jean-Paul Sartre
Sejujurnya, saya mengharapkan suatu “drama heroik” penerima Bakrie Award menolak hadiah sebagai bentuk solidaritas kepada korban lumpur Lapindo, Sidoarjo. Sayangnya, itu sekadar angan. Yang terjadi malah membikin dahi mengernyit dan bertanya-tanya soal integritas. Kenapa bisa?
Ulil Abshar Abdalla, dari Freedom Institute yang menyelenggarakan acara penganugerahan itu, dalam akun twitternya sempat berkicau tentang Nh. Dini, peraih Bakrie Award kategori sastra. Selama 60 tahun menulis Nh. Dini hampir tidak pernah mendapat penghargaan sastra, padahal ia telah menulis lebih dari 30 novel. “Berkali-kali penghargaan sastra di tanah air diberikan kepada seseorang, tapi kok saya luput terus ya,” katanya sebagaimana ditulis Ulil.
Bukan saya tak menghormati Nh. Dini, namun saya menangkap ada semacam ungkapan “ketidaktulusan” Nh. Dini dalam berkarya. Apakah ia, selama 60 tahun ini, menulis sekadar untuk mendapat anugerah ini-itu? Ataukah ia memang bersastra memang karena dorongan kemanusiaan?
Sastra selalu berkait dengan kemanusiaan. Inilah, bagi saya, yang menjadi pembeda antara karya “sastra” dengan “fiksi-populer”. Ini pula yang membuat saya mengkaitkan penganugerahan Bakrie Award dengan soal korban lumpur Lapindo di atas. Ada tragedi kemanusiaan di sana, ini tak bisa dimungkiri. Dan pembiaran berlarut-larut, pengombang-ambingan terus-menerus akan kepastian nasib para korban — atas dalih apapun, entah politis, entah hitung-hitungan ekonomi — membuatnya jadi tragik pangkat dua (mengutip istilah sastrawan Iwan Simatupang).
Apakah seorang sastrawan musti menggantungkan “harga” kesastrawanannya dengan bergudang-gudang penganugerahan? Semakin banyak menerima award, semakin sastrawanlah ia, begitu? Pramoedya Ananta Toer dibuang ke Buru, buku-bukunya dicabut dari rak-rak penyimpanan dan dibakar. Itu “award” yang ia dapat di negerinya sendiri. Namun toh hal itu tidak membuat hilang pengakuan bahwa Pram seorang sastrawan kampiun Indonesia. Pram diakui khalayak bukan karena banyaknya piala atau piagam penghargaan yang berderet menjejer memenuhi lemari dan dinding. Ia diakui karena konsistensinya mengusung nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap tulisannya.
Tak semua sastrawan menganggap award sebagai bentuk pujian dan pengakuan yang harus diterima atau musti dikejar-kejar. Dalam situasi tertentu, award malah menjadi batu sandungan bagi yang bersangkutan. Jean-Paul Sartre menampik Nobel bidang sastra pada yang dianugerahkan kepadanya pada 1964 sebagai bentuk komitmen menentang masyarakat borjuis kapitalis. “It is not the same thing if I sign Jean-Paul Sartre or if I sign Jean-Paul Sartre, Nobel Prize winner. A writer must refuse to allow himself to be transformed into an institution, even if it takes place in the most honorable form,” katanya. Cerita mungkin bakal lain kalau situasinya berbeda.
Sejujurnya saya waktu itu berharap ada laureat yang menolak Bakrie Award, setidaknya oleh penerima dalam bidang sastra dan lingkungan hidup. Sekali lagi, karena masalah lumpur Lapindo yang tak jelas juntrung penyelesaiannya itu. Sekali lagi, karena unsur solidaritas kemanusiaan itu.
Namun adalah hak para laureat untuk menerima atau menolak. Tak ada pihak lain di luar diri mereka yang dapat memutuskan. Apa yang dapat dilakukan pihak lain, termasuk saya, cuma memberi tanggapan terhadap keputusan itu. Memuji keberanian mereka, atau mempertanyakan integritas mereka.
Ah sudahlah, sekian dulu saja sampai di sini.
