Tag

, , , , , , , , , ,

“My message was very clear to investors: Muslim children need new heroes.”
– Dr. Naif Al-Mutawa

Beranjak dari kultur Islam — atau secara spesifik, kultur dan masyarakat Arab — serial komik superhero The 99 boleh dibilang merupakan suatu terobosan. Bukan hanya bagi dunia perkomikan, namun juga bagi masyarakat Muslim sendiri. Edisi pendahuluan serial ini, The 99: Origins, tersedia untuk diunduh secara gratis.

Ketika Dr. Naif Al-Mutawa bekerja sebagai magang psikologi-klinis di sebuah rumah sakit di New York, pria kelahiran Kuwait ini menangani korban penyiksaan politis yang beberapa di antaranya merupakan bekas serdadu Irak yang menyerbu negaranya pada 1990 lalu hingga memicu Perang Teluk. “Mereka begitu mengidolakan Saddam Hussein sedemikian rupa, hanya untuk disiksa olehnya di kemudian hari,” kenangnya.

Hal ini menggugah Al-Mutawa, “[I] increasingly alarmed about role models that are based on my culture. At every other turn, I found such false idols. Those who have taken the (Islamic) religion and politicized it, doing terrible things in the name of it.

Inilah yang kemudian menjadi salah satu motivasi Al-Mutawa ketika mulai menggagas komik The 99. “Most articles about Islam these days involve terrorism, so that was my challenge: How do I redefine this? The media not only reflects reality but can help change the course of reality,” kata Al-Mutawa dalam pidatonya di Cannes Lions International Festival of Creativity pada Juni lalu.

Nama “The 99” sendiri merujuk kepada nama-nama yang disandangkan kepada Allah mengacu pada sifat dan kebesaran-Nya. Dikisahkan, para pahlawan di dalam komik yang diterbitkan Teshkeel Comics, Kuwait, ini masing-masing memiliki kekuatan super yang berasal dari 99 Batu Nur — batu permata yang berabad lalu digunakan untuk menyelamatkan pengetahuan perpustakaan Darul Hikmah dari kemusnahan sewaktu pasukan Hulagu Khan meluluhlantakkan peradaban Baghdad. Al-Mutawa merencanakan, pahlawan dalam komik ini bakal mencapai jumlah 99 orang — satu pahlawan untuk satu Batu Nur — dari negara dan kawasan yang berbeda-beda, sebagai simbol visi multikulturalisme dan toleransi.

Al-Mutawa tidak mengingkari bahwa The 99 terinspirasi khasanah kultur Islam dan Al-Quran, namun bukan berarti komik ini lantas menjadi ekslusif. “These superheroes are inspired by Islam… but the storylines are secular,” tambahnya.

Memang bukan hal yang mudah untuk merintis dan menawarkan sesuatu yang baru, terutama kepada kultur yang sudah terbiasa mapan dengan kebiasaan-kebiasaan. Sekalipun The 99 banyak mendapat sambutan positif — salahsatunya adalah pujian khusus Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama — dan telah tersebar ke banyak negara serta diterjemahkan ke dalam sembilan bahasa — salah satunya bahasa Indonesia, toh reaksi penolakan dan penentangan masih tetap ada. Bukan hanya dari masyarakat yang apriori terhadap Islam dan kultur Arab, tetapi juga dari kalangan Islam dan Arab itu sendiri. Belakangan, Al-Mutawa musti siap sedia mempertahankan gagasannya terhadap kemungkinan pencekalan di Arab Saudi dan fatwa dari kalangan ulama di Indonesia.

Pernah suatu kali Al-Mutawa mengunjungi kantor majalah Sabili — salah satu media Islam di Indonesia — dan menjelaskan perihal The 99, salah seorang ulama menggebrak meja keras-keras sambil berkata, “Anda tak bisa menulis-ulang Islam!”

Jalan terjal mengatasi kesalahpahaman karena perbedaan metode interpretasi dan penyebaran nilai semacam inilah mungkin yang menjadi tantangan utama Al-Mutawa dan para pembuat komik The 99, atau malah komik-komik sejenis.

The 99 memang tidak ditujukan sebagai bahan rujukan, propaganda, atau evangelisasi (syiar) moral [Islam] secara didaktik. Dengan memilih segmentasi sekular dan nge-pop, The 99 malah memiliki potensi menjangkau khalayak yang lebih luas dan mengenalkan wajah Islam, dan masyarakat Arab, secara lebih menyeluruh — bukan melulu soal kekerasan, pelecehan hak asasi, dan terorisme.

Dan terlepas dari segala macam ulasan yang sok-serius di atas, The 99 memang pantas dibaca anak-anak dan para penggemar komik. Apalagi sambil Anda menunggu bedug puasa di saat Ramadhan begini.

  • Trivia: salah satu superhero The 99 adalah seorang pelayanan rumah makan bernama Torro Ridwan — dijuluki Fattah (The Opener, Sang Penguak), sesuai dengan kemampuan supernya. Nama yang terkesan familiar? Yep, Torro alias Fattah ini memang dikisahkan berasal dari Indonesia.
  • Tentang pertemuan Naif Al-Mutawa dengan ulama di kantor Majalah Sabili, saya kutip dari artikel The New York Times. Rujukan lain yang saya gunakan untuk membikin postingan ini adalah artikel yang dimuat Calgary Herald.

The 99: Origins

The 99: Origins
Naif Al-Mutawa, Fabian Nicieza, John McCrea (penciller), James Hodgkins (inker)
Penerbit: Teshkeel Comics, Kuwait
Cetakan: 2007
Tebal: 52 halaman
Situs: www.the99.org
Unduh (PDF, ~15,6 MB) (klik kanan, pilih opsi “Save As“)