Januari mengeras di tembok itu juga, lalu Desember. Musim pun masak sebelum menyala cakrawala—tiba-tiba kita bergegas pada jemputan itu.

Kutipan di atas adalah parafrasa puisi Sapardi Djoko Damono, Buat Ning. Saya selalu menyukai puisi itu. Terlebih ketika menyenandungkannya dalam untai nada-nada musikalisasi yang dibikin Dua Ibu, saya selalu merasakan suasana perasaan-entah-apa yang begitu dalam. Semacam suasana keharuan, suasana kontemplatif, suasana-suasana yang menempatkan saya pada pusat eksistensial kemanusiaan saya. Suasana yang…, ya semacam begitu itulah.

Tak terkecuali di awal Juli ini—awal paruh kedua sebuah tahun, tentu saja termasuk tahun ini, yaitu saat ketika saya membuat tulisan ini. Buat Ning menghampir, ia mengetuk relung-relung permenungan saya (lagi). Saya berujung pada sebuah pertanyaan retoris: benarkah saya tengah ada dalam situasi menunggu jemputan itu? Pada sebuah halte yang mana, gerangan?

Entahlah. Yang pasti, ini sebuah Juli, Ning—ini sebuah Juli.