Jam Tangan

arloji

Jam tangan ini saya beli seharga Rp. 80.000—itu pun sudah melalui proses tawar-menawar yang alot. Jam tangan yang ada tanggalannya, apalagi lengkap dengan informasi hari, memang lebih mahal ketimbang yang tampil polos ala kadarnya.

Tentu saja ini jam tangan abal-abal—kalau enggan menyebutnya palsu, apalagi bajakan.

Kenapa saya membeli jam ini? Selain karena saya memang tengah mencari jam tangan dengan belt kanvas untuk dipakai kerja sehari-hari—menggantikan jam tangan utama saya yang model rantai stainless yang saya anggap tidak efektif untuk jenis kerjaan saya—dengarkan, ini pelajaran buat kita. Karena jam ini adalah [seharusnya] jam mahal, tetapi dijual keliwat murah. Kenapa saya beli? Karena begitu saya melihat, yang ada di pikiran saya adalah justification, dan justification.

Kita, sepertinya, memang bangsa yang gemar mencari pembenaran. Kita kejar mereka yang kita sebut pembajak. Kita bekuk, kita hakimi—sembari kita menggetokkan palu vonis ke atas kepala para penjahat itu, dari sekujur tubuh kita bergemerincing barang-barang yang kita cemooh sebagai bajakan, palsu, ilegal, dan sebagainya, dan seterusnya, dan segalanya itu.

Kita, seolah, sebuah kaum yang penuh bélék pada kedua matanya.

Catatan kaki:

  • Beberapa bagian tulisan dalam postingan ini merupakan kutipan dari sebuah artikel berita, dengan sedikit modifikasi di sebelah sana-sini untuk kepentingan parodi, atau satire, atau kritik, atau terserahlah bagaimana Anda menyebutnya.